Terkonfirmasi seperti ini

APA SALAH JURNALIS? Wajah-wajah akrab pamit satu per satu. “Program kami berhenti. Terima kasih atas kebersamaan selama ini.” Mereka adalah jurnalis Yang selama bertahun2 kita lihat membacakan berita pagi, melaporkan dari lapangan, mewawancarai narasumber, dan mengolah berita dari balik meja redaksi. Tidak ada skandal. Tidak ada kelalaian. Tidak ada berita hoaks. Tidak ada kesalahan profesional yg mrk perbuat. Tapi mrk tetap kehilangan pekerjaan. Apa salah jurnalis? Fakta pahitnya para jurnalis ini bukan dipecat krn gagal menjalankan tugas.

Tapi korban paling tragis dari dunia media yg berubah terlalu cepat. Industri berita, terutama televisi, tengah digerus disrupsi teknologi dan perubahan perilaku penonton. Generasi muda Gen Z tak lagi menonton berita pagi. Mereka membuka ponsel begitu bangun tidur. Mereka tak menunggu jam tayang. Informasi hadir setiap detik di TikTok, Instagram, dan YouTube. Bagi mrk, “berita” bukan lagi paket 5 menit yg dibacakan anchor, tapi video pendek dgn teks dramatis dan backsound cepat. Sementara itu, stasiun TV masih sibuk dgn: rundown, segmen, dan rating. Ketika pendapatan iklan turun drastis dan biaya operasional tak bisa ditekan lagi… Maka yg dikorbankan adl mrk yg paling dekat dgn inti kerja jurnalistik. Yaitu para jurnalis. Televisi dan koran terlambat membaca zaman.

Mereka tetap percaya bhw otoritas jurnalisme mrk tak tergantikan. Bahwa publik masih butuh “menonton berita”. Padahal, publik kini tak lagi butuh medium itu. Mereka sudah punya semuanya di layar pribadi. Informasi tak lagi eksklusif, tak lagi terkurasi. Semua orang kini adalah media. Semua orang bisa menjadi “jurnalis”.
by @yuswohady
#ogudtalk







